Rabu, 26 Desember 2018

Kamis, 26 Juli 2018

PENGALAMANKU (Roni Haeroni) PERTUKARAN PELAJAR KE BRUNEI DARUSSALAM 2018

 PERTUKARAN PELAJAR KE BRUNEI DARUSSALAM 2018
Borneo Studies Network (BSN): Youth Leadership Global Discovery Programme 2018 Brunei Darussalam, Pelatihan Kepemimpinan Tingkat Dunia sebagai SPC Kedua-ku
Oleh: Roni Haeroni (Etoser Samarinda 2014, FKIP/BK Unmul)

      
           Assalamualaikum wr. wb., Perkenalkan nama saya Roni Haeroni, silakan para pembaca panggil saya Roni. Saya adalah Etoser Samarinda 2014 (Etoser: sebutan bagi penerima manfaat Beastudi Etos) program studi Bimbingan & Konseling, Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan Universitas Mulawarman dan ini adalah tahun akhir saya sebagai penerima manfaat beastudi etos karena kurang lebih dua bulan lagi dari seakrang in sya Allah akan berlngsung wisuda etoser se-nusantara bagi angkatan 2014. Di akhir tahun masa ke-etoseran, awalnya saya tak ada target khusus dalam mengembangkan profil Beastudi Etos yaitu PeMUDA Kontributif (Pemimpin, Mandiri, Unggul, Disiplin, Akhlak Islami & Kontributif), mungkin awalnya lebih difokuskan penyelesaian tugas akhir studi yang selalu hadir dalam berbagai kesempatan pertanyaan “bagaimana skripsinya? Sudah lulus atau belum? Kapan lulus dsb hehhe. Ya itulah pertanyaan yang memiliki sensitivitas tersendiri bagi setiap mahasiswa akhir. Berawal dari briefing Monitoring dan Evaluasi (Monev)  Etos Samarinda di sekitar bulan Maret-April 2018 lalu untuk ETAM (EToser sAMarinda) angaktan 2014 oleh pendamping kami, di ruang asrama Al-Kahfi Beastudi Etos Samarindalah hal ini bermula. Waktu itu sang pendamping menyampaiakan dan mengingatkan bahwa meski sekarang kalian berada di tahun ke-4 program Etose, tapi kalian juga tetap minimalnya harus mencapai beberapa target dari berbagai profil PeMUDA Kontributif, tetap harus ada prestasi.

          Nah dari situlah saya coba untuk mencapai target itu. Lalu di awal Mei 2018 alhamdulillah tak di sangka yang awalnya hanya iseng-iseng ikut lomba film pendek (karna lomba ini gratis serta saya hanya bermodalkan kamera handphone saja) eh sekalinya lolos sebagai finalis di kompetisi Islamic National Short Movie Competition yang diadakan oleh JNUKMI UNS (Jamaah Nurulhuda Unit Kegiaan Mahasiswa Islam Universitas Sebelas Maret) di Solo, Jawa Tengah dengan tema fenomena hijrah pemuda zaman now dan Alhamdulillah hasil akhirnya lumayan setelah perwakilan tim (Saya & Nor Wahyudi (adik tingkat saya di BK FKIP Unmul 2015)) presentasi langsung di depan Juri di UNS semasa itu. Karya kami keluar sebagai Juara Harapan 2 dan hasil ini merupakan hasil tak terduga bagi Kami sebagai seorang yang bukan ahli di bidang media maupun yang berhubungan dengan dunia perfilmpendekan. Alhamdulillah…

         Kemudian inti dari tulisan ini sebenarnya akan dimulai dari paragraf ini nih. Yapp…  kali ini saya mau berbagi cerita mengenai masa-masa ke-SPC-an kedua saya versi tingkat internasioanl (SPC: Sociopreneur Camp, semacam program leadership juga yang rutin diadakan Beastudi Etos pusat tiap tahunnya). Dulu di 2016, SPC saya dan seluruh Etoser Nusantara 2014 tingkat nasional diadakan di Bogor dan masih teringat memori juara umum yang diraih oleh kami (Etoser Samarinda) untuk pertama kalinya serta pertama kalinya juga saya sebagai Etoser di luar Pulau Jawa mendapatkan amanah sebagai Ketua Angkatan Etoser Nusantara 2014. Oke itu adalah kisah lama yang menggugah semangat penuh cerita. Sekarang kita kembali ke masa ini, hehe. Saya bersyukur pernah merencanakan dan menuliskan “Goes to Brunei Darussalam 2018” di white board mini kamar kost saya. Waktu itu saya termotivasi untuk lolos program belajar bahasa inggris yang diadakan oleh Kerajaan Brunei Darussalam bagi warga Negara ASEAN, karena itulah saya tuliskan hal tersebut di white board mini kamar saya. Namun target lolos itu tak tercapai karena terkendala hal teknis internet waktu itu dan akhirnya tak sampailah target lolos program tersebut. Walau tak lolos target program itu, tulisan “Goes to Brunei Darussalam 2018” belum saya hapus sampai sekarang (saat menuliskan sejarah ini) dan mungkin itulah doa yang tertulis hingga akhirnya tak disangka di akhir bulan Juni 2018 ada informasi mengenai program BSN (Borneo Studies Network): Youth Leadership Global Discovery Programme 2018 yang diadakan di Universiti Brunei Darussalam (UBD).


         Yapp… BSN: Youth Leadership Global Discovery Programme 2018 yang diadakan di Universiti Brunei Darussalam dari tanggal 09-15 Juli 2018 inilah yang menjadi SPC kedua saya versi internasional. BSN memiliki beberapa anggota dewan kerja, salah satunya adalah Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda yang diminta mengirimkan dua orang mahasiswa terbaiknya untuk mengikuti agenda tersebut. Permintaan BSN ini datang via email kepada pihak Unmul tepatnya kepada UPT LI (Unit Pelayanan Teknis Layanan Internasional) Unmul kurang lebih dua minggu sebelum agenda tersebut dimulai. Karena diminta segera dari pihak BSN, maka UPT LI segera melakukan sosialisasi program tersebut via online hanya ke grup WhatsApp (WA) International Student Buddy of Mulawarman University (ISBMU) atau sering disebut Student Buddy Unmul yaitu mahasiswa Unmul yang sudah diseleksi oleh UPT LI yang bertugas menjadi kawan/mendampingi mahasiswa asing/tamu asing (dalam/luar negeri) yang datang melakukan internship, exchange dsb di Unmul. Kenapa hanya ke grup WA itu saja, karena memang persyaratan yang ditentukan pihak UPT LI unmul adalah sebagai berikut: Merupakan mahasiswa Student Buddy Unmul 2018, Bisa berbahasa Inggris, diutamakan yang memiliki pengalaman kepemimpinan, tidak sedang melakukan KKN/PPL/PKL. Dan kebetulannya (Alhamdulillah) saya sendiri adalah salah satu anggota Student Buddy Unmul 2018. Tak lama setelah info itu diumumkan sayapun mendaftarkan diri sebagai salah satu pelamar program tersebut.

         Setelah tiga hari disosialisasikan, selanjutnya dilakukan proses seleksi wawancara khusus. Proses wawancara langsung dipimpin oleh Ketua UPT LI Unmul yaitu Mr. Widi Sunaryo, SP., M.Si., Ph.D dan dibantu oleh Mr. Sukemi, S.Pd., M.Sc. Setelah proses wawancara selesai, di hari itu juga secara terbuka Dr. Widi langsung mengumumkan dua orang yang terpilih untuk berangkat ke Brunei Darussalam dan salah satunya adalah saya (Roni Haeroni dari prodi Bimbingan & Konseling (BK) FKIP Unmul 2014) dan satu peserta lainnya (Fitriana Ulfa dari prodi Hubungan Internasional FISIP Unmul 2016). Alhamdulillahirobbil alamiin… ucapan kesyukuranpun saya ucapkan. Dalam proses seleksi wawancara ini,  saya bersyukur karena saya ditanya mengenai pengalaman kepemimpinan dan prestasi yang pernah saya raih, saya sampaiakan pengalaman di Hima BK FKIP Unmul (sebagai ketua umum periode 2016), di kelas sebagai Kating (Ketua Tingkat) selama 2 tahun, di LDK Al-Hijrah FKIP IP/IPS Unmul sebagai anggota, di IGN (International Global Network) sebagai anggota periode 2016, di Etoser Nusantara 2014 sebagai Ketua Angkatan Nasional, di Gamadiksi Unmul 2015 & BEM FKIP Unmul 2017 sebagai anggota, di OSIS MTs-MAN (SMP-SMA) sebagai Ketua Umum serta saya sampaikan beberapa raihan prestasi saya. Sungguh pengalaman itu semua sangat berharga dan menjadi poin plus bagi saya untuk terpilih. Kemudian selepas itu, dua orang peserta terpilih langsung diinstruksikan untuk melengkapi persyaratan berkas dimulai dari data diri, passport, form penyataan kesehatan,  mencetak LoA dsb serta keesokan harinya juga kami diharuskan mengikuti proses pelepasan yang dilepas bersama program pelepasan Mahasiswa KNN Internasional & Exchange Programme (program ke Brunei adalah bagian dari program Exchange ya, bukan KKN Internasional) yang bertempat di Rektorat Unmul. Kemudian kami berdua segera mempersipakan segalanya menuju agenda Penemuan Pemimpin Muda Dunia tersebut. Keberangkatan Ke Brunei Darussalam merupakan keberangkatanku yang ke-5 ke luar negeri setelah sebelumnya berangkat ke-1 ke Malaysia & ke-2 ke Singapura (Januari 2016 sebagai peserta sekaligus mendapatkan achievement sebagai The Best Participant of Confirmation di agendanya ASEAN Youth Excursion Malaysia-Singapore Programme 2016). Kemudian diberi kesempatan lagi yg ke-3 ke Malaysia kembali (di bulan Mei 2016 sebagai Panitia Program Internasional ASEAN Youth Excursion Malaysia Programme on May 2016), dan di Februari 2017 kembali lagi ke Malaysia (keberangktan ke-4) di agendanya National Aspiration & Leadership Summit (NALS) dan Alhamdulillah Top Three Best Picture didapat disana. Selanjutnya di 2018 ini adalah keberangkatan ke-5 yaitu ke Brunei Darussalam. Alhamdulillah trima kasih yaa Allah ini anugerah yang tak terhingga bagi saya 3 tahun berturu-turut (2016-2018) dapat rezeki ke luar negeri dan in sya Allah akan terus dikembangkan dan dilebarkan serta dikepakan anugerah ini agar bisa menginjakan kaki di berbagai belahan negeri-Mu lainnya di berbagai kesempatan untuk bisa mensyukuri ni’mat-Mu dengan cara yang berbeda dan menginspirasi orang lain. Alhamdulillah…

 
       Tak terasa hari menuju keberangkatan pun semakin dekat, hari keberangkatan dimulai dari tanggal 7 Juli yang bertolak dari Samarinda menuju Balikpapan kemudian ke Jakarta dan dini harinya terbang menuju Kuala Lumpur, Malaysia (transit kurang lebih selama 5 jam) dan di pagi hari tanggal 8 nya penerbangan dilanjutkan menuju Brunei International Airport. Alhamdulillah tiba di Brunei Darussalam sekitar pukul 09.00 WITA, sesampainya di sana di balai ketibaan kami sudah ditunggu & disambut para Student Buddy nya Universiti Brunei Darussalam. “Welcome to Brunei Darussalam” itulah sambutan hangat dari para student buddy UBD yang ramah & setulus hati mereka sampaikan kepada kami. Student Buddy UBD yang bertugas menjemput kami di sana waktu itu adalah Nisa, Qawi, Wendy dan Aziz. Kamipun langusng diajak berbincang-bicang oleh mereka sembari menunggu kedatangan peserta lain dari UMS (Universiti Malaysia Sabah), Untan (Universitas Tanjungpura), Unlam (Universitas Lambung Mangkurat) dan Uniska (Universitas Kalimantan Bajarmasin) setelah sebelumnya kami selesaikan urusan Student Visa di bagian imigrasi. Tak lama, dua orang peserta dari UMS pun tiba (Zul Hairy dan Primus Musdal). Selepas itu kami delegasi dari dua universitas diantarkan lebih dahulu ke UBD via bus sewaan khas yang sopirnya adalah warga bewajah india yang sudah pandai berbahasa melayu dan sopir keturunan india ini sering disapa bos/uncle sebagai ciri khas sapaan sopan pada mereka di Brunei Darussalam.


The Core UBD Residential College
              Kurang lebih 10 menit kamipun sampai di UBD, tepatnya kami diantarkan ke The Core UBD Residential College sebuah tempat penginapan 6 lantai dan berjumlah 8 tower bahkan menurut saya sudah termasuk kategori apartement  yang lengkap dengan berbagai fasilitasnya dari mulai satu gugus kamar terdiri dari 5 kamar ber-AC, ruang tamu ber-AC, dapur, 1 toilet dan 1 kamar mandi serta dilengakapi dengan 1 kulkas besar, 1 oven, kompor listrik, 1 mesin cuci otomatis dan berbagai peralatan dapur yang lengakap bagi mahasiswa internasional yang sedang internship, exchange, summer school dsb di sana.

Kamipun langsung diberi kunci kamar serta diantarkan ke kamar masing-masing. Saya sendiri berada 1 gugus kamar bersama mahasiswa dari UMS, Untan dan Uniska di tower 4 lantai 6. Sedangkan delegasi yang perempuan ditempatkan di tower 5-8. Selepas kami dari kamar, kami langsung disuguhi makan siang di lantai 1 (temapt makan khusus bagi mahasiswa asing di sana) dan sempat berbincang-bincang saling sharing mengenai Negara masing-masing.


         Kegiatan BSN (Borneo Studies Network): Youth Leadership Global Discovery Programme 2018 ini diikuti oleh 37 orang peserta yang terdiri dari dua program, yaitu peserta yang berasal dari program BSN sebanyak  17 orang dan peserta yang berasal dari program GLSS (Global Leadership Summer School) sebanyak 20 orang. Peserta program BSN merupakan peserta yang berisikan delegasi mahasiswa terpilih dari Universitas yang ada di Kalimantan yaitu Indonesia, Malaysia dan tuan rumah Brunei Darussalam. Peserta BSN dari Indonesia terdiri dari delapan orang mahasiswa yang berasal dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda - Kalimantan Timur, Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin – Kalimantan Selatan, Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Banjarmasin – Kalimantan Selatan dan Universitas Tanjung Pura (Untan) Kalimantan Barat yang masing-masing universitas diwakili oleh dua orang delegasi.
Sedangkan peserta BSN dari Malaysia diwakili oleh tiga orang mahasiswa dari Universiti Malaysia Sabah (UMS) dan peserta BSN dari tuan rumah UBD diwakili oleh enam orang mahasiswanya. Kemudian, peserta dari program GLSS sendiri terdiri dari berbagai mahasiswa yang berasal dari berbagai Negara diantaranya Thailand, United Kingdom, Hong Kong, Oman dan China.

Tak terasa tibalah hari pertama kegiatan yang secara resmi dimulai 9 Juli 2018. Kami memulai kegiatan dengan sarapan dari pukul 06.30-07.45 kemudian dilanjutkan perjalanan menuju ILIA (Institute for Leadership, Innovation and Advancement) UBD sekitar 5 menit dari penginapan via bus sewaan khas dengan sopir khas indianya hehhe. Sampai di ILIA, kami masuk dan langsung disambut dengan pembagian ID card peserta serta satu goodibag UBD lengakp dengan majalah UBD dan notenya. Acarapun dimulai dengan membacakan al-fatihah sebagi doa pembuka dan diteruskan dengan sambutan oleh Dr. Noor Hasharina Binti Pg Hj Hassan (Kepala Sekretariat BSN) dilanjutkan ice breaking yang menggugah pemikiran kami karena kami hanya boleh berkomunikasi dalam bahasa isyarat setelah kami semua diberi instruksi untuk melakukan sesuatu semisal mengurutkan diri dari usia termuda sampai tertua dsb. Kegiatan selanjutnya adalah briefing mengenai informasi tempat dan cara serta ke mana harus berkumpul jika terjadin kebakaran atau hal yang tidak diinginkan lainnya di tempat yang sedang kami tempati tersebut. Lalu pihak ILIA pun menyampaikan lebih awal mengenai tujuan, aturan, proses maupun cara bersikap selama menjalani pelatihan disana dan hal ini selalu disampaikan setiap hariya selama 3 hari kegiatan berlangsung di ruangan. Seterusnya, pihak ILIA menyampaikan agar para peserta menuliskan harapan dan kecemasan dari program yang sedang diikuti dan menempelkannya di white board depan. Setelah itu pihak ILIA mereviewnya serta mengulas bahwa kecemasan terbanyak adalah pada hal komunikasi, khawatir miss communication dsb. Maka dari itu pihak ILIA menegaskan dan menguatkan agar kami percaya diri dalam berkomunikasi serta mereka akan bicara perlahan dalam setiap kesempatan agar mudah dipahami maksudnya, begitupun sesama peserta, pihak ILIA berharap demikian agar mereka saling memahami satu sama lainnya.

            Kemudian masuklah kami pada workshop Jouney Line yang disampaikan oleh Mr. Onn, di workshop ini kami diajarkan dan diintruksikan untuk menggambarkan perjalanan hidup dalam suatu garis naik turun pada kertas yang sudah ada titik koordinat dan garis vertikal-horizintal yang dibagikan panitia dan setelah selesai kami diharuskan menceritakan journey line kami masing-masing selama 7 menit kapada teman di samping kami dan selepas itu kami saling menanggapi dan memberikan feedback. Tujuan utama dari journey line adalah bagaimana kami bisa belajar dan menyadari bahwa pada suatu kondisi tertentu dalam hidup ini kami bisa melewati hal itu serta dapat belajar dari pengalaman yang lalu sekaligus muhasabah diri bagi kami. Sesi selanjutnya dilanjutkan dengan workshop Personality Plus yang disampaikan oleh Mr. Najeep (seorang psikolog) yang diawali dengan cara agar peserta saling mengenalkan diri melalui kertas dengan menuliskan nama, hal yang paling dicintai dan hobby melaui gambar2/simbol yang mewakili dari ketiga hal tersebut dan para pesertapun harus saling menebak gambar2 tersebut ketika saling berkenalan, di sesi ini yang menarik adalah gambar yang dibuat para psesrta unik-unik dalam menuliskan ketiga hal itu, seru dan ini merupakan cara berkenalan berbeda serta akan mudah mengingat nama dari orang yang baru dikenal. Sesi perkenalan asyik inipun usai dan dilanjutkan dengan workshop personality plus. Pada sesi ini dijelaskan dan dipahamkan mengenai empat kepribadian beserta uji profil kepribadian dari setiap peserta untuk mengetahui mereka berada di profil kepribadian yang mana. Uji profil kepribadian ini diadaptasi dari bukunya Florence Littauer yang berjudul Pesonality Plus. Setelah uji test tersebut maka hasinya dikalkulasikan dan setelah itu akan muncul di kepribadian manakah kita berada, apakah di Sanguinis, Melankolis, Koleris atauakah Phlegamtis. Tak hanya itu, Mr. Najeep pun mengulas tuntas kelemahan dan kelebihan dari masing-masing profil beserta simbol hewan dari ke-empat kepribadian itu. Melakolis dilambangkan dengan Burung Hantu, Phlegmatis dilambangkan dengan Burung Merpati, Sanguin dilambangkan dengan Burung Merak dan Koleris dilambangkan dengan Burung Elang. Tujuan dari workshop Personality Plus ini adalah agar setiap peserta memahami kelemahan dan kekuatan kepribadiannya masing-masing (Pemahaman Diri). Okke selesailah sesi tersebut dan dilanjutkan dengan housekeeping yaitu proses briefing mengenai aktivitas yang harus dilakukan baik setelah ataupun sebelum kegiatan dan terakhir sebelum agenda di hari pertama ini selesai, selanjutnya adalah briefing mengenai persiapan out bond mulai dari peralatan yang harus dibawa, kesehatan dsb yang akan dilaksankan di OBBD (Outwards Bound Brunei Darussalam) tepatnya di Pusat Pembinaan Jati Diri Kementerian Kebudayaan, Pemudan dan Olahraga di distrik Temburong yang berjarak sekitar kurang lebih 2 jam dari UBD. Kemudian selepas maghrib kami peserta BSN melanjutkan kegiatan di Gadong Night Market (Pasar malam Brunei Darussalam) untuk mencari makanan khas Brunei Darussalam (salah satunya adalah Nasi Katok) dan untuk mencari sebagian peralatan out bond nanti. Dan dari kegiatan pasar malam ini ternyata banyak kosa kata/bahasa asli Brunei Darussalam sama dengan kosa kata/bahasa Banjar-Kalsel dimulai dari martabak “nyaman banar”, bujur dll. Bahkan ada peserta asal Brunei Darussalam sendiri yang menanyakan ke saya mengenai bahasa banjar dan dia sampaikan bahwa bahasa asli Brunei Darussalam sama saja dengan bahasa Banjar hehehe.


             Itulah kegiatan di hari pertama. Mari kita next ke hari kedua. Dimuai dari sarapan yang tepat waktu dan sampai di ILIA sebelum pukul 08.00 adalah salah satu kedisipilnan yang mengawali hari kedua. Sesi Hari kedua dimulai dengan doa al-fatihah sebagai doa pembuka dan dilajutkan dengan sesi Refleksi & Overview apa yang didapat di hari kemarin dari beberapa peserta. Inti dari sesi hari kedua ini dimulai dengan workshop Leadership Style, yang disampaikan oleh Miss Julia. Dalam Leadership Style/gaya kepemimpinan terdapat enam gaya, yaitu komando, visioner, affiliatif, demokratis, pacesetting dan coaching yang diulas lengkap dengan berbagai cirinya masing-masing. Salah satu cirinya dalam berbicara dari gaya komando adalah lebih ke arah “do what I tell you”; gaya visioner yaitu “come with me”; gaya affiliative yaitu “people come first”; gaya demokratis yaitu “What do you think”; gaya pacesetting yaitu “do as I do now”; dan Coaching yaitu “try this”. Setelah diulas semua ciri dari berbagai gaya. Langkah selanjutnya adalah proses pemecahan 3 studi kasus yang harus diselesaikan oleh para peserta sekaligus pembahasan bersama. Selepas menyelesaiakan studi kasus, kegiatan workshop dilanjutkan dengan materi “Negotiation Skill” yang disampaikan oleh Mr. Onn, beliau menyampaiakan materi negosiasi melalui sebuah video di mana para peserta harus menyimak tips dan triknya untuk bisa diterapkan nantinya. Kemudian, dalam proses penyampaian, Mr. Onn membagikan skenario berupa 4 peran, 2 orang berperan N1 & N2 lalu 2 orang selanjutnya berperan sebagai F1 & F2. N1 & N2 diberi skenario yang tidak boleh diketahui satu sama lainnya. Setelah selesai memahami, dimulailah proses negosiasi antara N1 & N2. Selanjutnya F1 & F2 berperan sebagai pengamat yang mencatat apa saja yang harus ditingkatkan dan masukan-masukan pada N1 & N2. Setelah N1 & N2 selesai maka F1 & F2 lah yang bertukar peran dengan N1 & N2. Selanjutnya workshop dilanjutkan dengan PSTB (Problem Solving Team Building). Pada proses pelaksanaan workshop ini peserta dibagi menjadi 4 kelompok masing-masing 9 orang dan diintruksikan menuliskan serta menyebutkan permasalahannya masing, setelah itu dilakukan kesepakatan masalah mana yang akan dipecahkan dan setiap kelompok harus menunjuk satu orang fasilitator dan kemudian setiap peserta saling mengungkapkan solusi dan cara menyelesaikan permasalahan tersebut. Semua anggota dituntut untuk aktif dalam diskusi pemecahan masalah agar problem solving team building tercipta dari workshop ini. Kemudian, kegiatan hari kedua ini diakhiri dengan housekeeping dan closing setelah sebelumnya di jam 12.00-14.00 dilakukan istirahat, makan dan sholat. Tiba malam hari kedua juga kami khusus peserta BSN kembali melanjutkan kegiatan hunting peralatan out bond yang belum kami miliki, kami diajak ke berbagai tempat perbelanjaan di Brunei Darussalam oleh para student buddy UBD untuk mendapatkan barang yang dimaksud.

       Berlanjut ke hari ke-3 workshop, di hari ini saya diberi kesempatan untuk memimpin doa dengan membacakan surah al-fatihah sebagai doa pembuka dan juga mendaptakan kesempatan untuk menyampaikan apa yang saya dapat di hari kemarin pada sesi refleksi dan overview. Pada kesempatan tersebut langsung saja saya mengenalkan diri beserta almamater kampus Universitas Mulawarman (Unmul) tercinta plus program Beastudi Etos dan Dompet Dhuafa secara singkat pada para peserta lainnya. Pada hari ketiga ini, kegiatan inti dimulai dengan workshop Effective Communication dan Barriers to Communication. Tujuan dari workshop ini adalah bagaimana kedua belah pihak yang berkomunikasi dapat mengahsilkan tujuan/hasil akhir yang sama yang dimaksud. Workshop ini dilakukan dengan cara didemonstrasikan yang sebelumnya dilakuakan pembagian kelompok dan setiap kelompok di bagi kembali menjadi divisi A & B selanjutnya setiap kelompok dibatasi dengan satu  balok yang menghalangi antara divisi A & B serta masing-masing kelompok harus memiliki satu pengamat. Divisi A dan B akan mendaptakan box teka-teki, peraturan pertama pada saat divisi A membuka box teka-teki, divisi A boleh berbicara dan divisi B tidak boleh berbicara. Saat itu divisi A boleh menyampaikan ciri-ciri apapun dari benda yang mereka temukan dari box teka-teki pada divisi B. Selanjutnya disesi kedua, divisi B boleh berbicara dan menyampaikan apa yang mereka temukan dari box teka-teki pada divisi B disesuiakan dengan ciri yang sudah disampaikan oleh divisi A pada sesi pertama. Selanjutnya divisi A hanya boleh berbicara “ya atau tidak” saja untuk menjawab pertanyaan penyesuaian ciri-ciri benda yang ditemukian pada box teka-teki tersebut. Apabila semuanya sudah sesuai maka masing-masing divisi boleh menyamakan benda apa sebenarnya yang mereka temukan dari box teka-teki tersebut apakah hasil akhirnya sama atau tidak. Jika hasilnya sama maka Effective Communication dan Barriers to Communication berhasil mereka lakukan. Apabila tidak berarti terjadi miss communication, hehehe. Selepas permainan mengenai box teka-teki tersebut, workshop dilanjutkan dengan workshop Growth Mindset yang awalnya dimulai dengan penjelasan oleh Mr. Onn mengenai berbagai gaya berpikir dari setiap orang. Kemudian dilanjutkan dengan test gaya berpikir dengan tujuan untuk mengetahui gaya berpikir dari para peserta. Setelah diketahui maka dibahaslah ciri serta kelebihan maupun kelemahan dari masing-masing gaya tersebut. Selanjutnya Kami pun disuguhi sebuah video  di mana setelah itu kami diharuskan menebak berbagai gaya berpikir dari orang-orang yang ada di video tersebut. Sesi selajutnya adalah break, makan dan sholat. Selesai itu, saya dan 3 orang delegasi Indonesia lainnya melanjutkan sesi dengan membuat asuransi kesehatan di Takaful Company Brunei sebagai langkah tawakal pada Allah SWT karena di hari ke-4 dan ke-5 kami akan melakukan kegiatan outdoor di hutan (Taman Negara).

   
         Masuk pada hari ke-4 dan ke-5 kami melakukan kegiatan outdoor di distrik Temburong tepatnya di Pusat Pembinaan Jati Diri Kementerian Pemuda dan Olahraga Brunei Darussalam yaitu lebih spesifik laginya di OBBD (Outwards Bound Brunei Darussalam). Perjalanan harus dilalui via darat, laut dan sungai yang dimuali pukul 07.30 dari UBD menuju dermaga dan dilanjutkan dengan menaiki jetty (kapal boat) menuju distrik Temburong yang melewati wilayah perbatasan Brunei Darussalam-Malaysia. Sekitar pukul 09.30 kami sampai di Dermaga Temburong dan kemudian dilanjutkan via bus ke Camp OBBD. Akhirnya tak lama kamipun sampai di Camp OBBD.

Agenda pun diawali dengan sambutan oleh para Coach tangguh di sana beserta owner. Kemudian dilanjutkan dengan orientasi keamanan, makan siang dan pembagian kelompok. Selanjutnya adalah sholat dzuhur dan pengenalan cara pemkaian berbagai peralatan outbond terutama life jaket yang dipakai setiap saat ketika menyebrangi jembatan gantung. Kemudian acara dilanjutkan menuju tempat penginapan di seberang sungai serta kegiatan merapikan tempat tidur masing-masing peserta. Kemudian peserta kembali berkumpul perkelompok dengan Coachnya masing-masing dilanjutkan dengan sesi orientasi dan ice breaking dan penitipan handphone, passport, dompet dsb karena selama outbond peserta dilarang membawa barang-barang tersebut.

Saat siang mejelang sore dimulaiah permainan kepercayaan (Trust Game), Bonding Game, Group Game 1 & 2 (halang rintang) kemudian break dan sholat ashar serta dilanjutkan dengan Water Confidence Activity yang mengajarkan keberanian menghanyutkan diri di arus sungai, keterampilan kayaking dan berenang serta menyampaikan “selamat petang sungai Temburong, sambil menenggelamkan diri bersama-sama ke dalam air sungai” hehehe. Selepas kegiatan di sungai, para peserta istirahat, sholat dan makan serta dilanjutkan setelah solat isya, yaitu review dan refleksi di masing-masing kelompok dengan Coachnya masing-masing yang dipacking dengan ice breaking cop-cilpcop dan game ayam-superman. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan istirahat di tempat penginapan masing-masing.
             
            Keesokan harinya kegiatan diawali dengan menghadiri pengibaran bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan Brunei Darussalam. Kemudian dilanjutkan dengan bersih diri, sarapan pagi dan pelaksanaan Flying fox bagi setiap peserta yang dipandu oleh para Coach. Flying fox disinilah yang merupakan pengalaman pertama saya merasakan meluncur bebas di udara di atas jurang, hutan dan sungai, Huuh… sangat luar biasa rasanya hehehe. Kegiatan setelah Flying fox selesai yaitu dilanjutkan dengan persiapan menuju Taman Negara untuk hiking ke puncak tertinggi. Setelah semua dipastikan siap maka para peserta dijemput oleh para petugas dari Taman Negara dengan mengguakan perahu motor yang bisa diisi per-perahu oleh 6 penumpang.

Perjalanan menuju Taman Negara harus dilalui dengan melawan arus sungai Temburong selama kurang-lebih 40 menit. Sungai Temburong yang kami lalui masih alami, lestari dan jernih airnya. Selama perjalanan banyak suara burung2 maupun binatang lainnya yang saling berbalasan seolah menyapa kami pengunjung baru yang datang kesana. Setelah 40 menit sampailah kami di hostelnya Taman Negara, kamipun langsung diarahkan registrasi. Setelah registarsi, perjalanan dilanjutkan menuju jalur hiking Taman Negara. Bukit yang curam dan tangga pendakian yang tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi kami, kurang lebih ada sekitar 700-1000 meter anak tangga yang harus kami lalui dan ada sekitar 5-7 tower setinggi 45 kaki di puncak pendakian yang harus kami taklukan.
Yupss… di akhir tempat pendakian adalah menaklukan pendakian tower yang tingginya sudah sama dengan pohon-pohon tinggi yang ada di hutan/Taman Negara tersebut, sehingga jika sudah sampai puncak kita bisa melihat betapa luas dan hijaunya taman Negara tersebut. Setelah selesai penaklukan maka para peserta harus kembali turun dari tower dengan sangat hati-hati karena setiap bagian tangga yang dilalui baik untuk naik atau turun hanya boleh diinjak oleh satu orang sedangkan yang lainnya menunggu di bagian penyangga tower dan setiap satu tower hanya boleh dinaiki oleh lima orang pendaki.

   
       Selesailah proses pedakian di Taman Negara, para pesertapun kembali ke Camp OBBD dengan kegiatan bersih diri, sholat, makan dan persiapan kepulangan kembali ke UBD.  Sembari menunggu waktu kepulangan, kami diberikan game kompetisi grup, yakni setiap grup diberikan telur, lakban/solatif, gunting, tali dan kertas. Tantangannya adalah bagaimana caranya agar telur tersebut ketika dijatuhkan dari lantai 3 hostel OBBD tidak pecah ataupun rusak, para peserta boleh menggunakan peralatan yang sudah diberikan tadi untuk membuat alat perlindungan agar telur tersebut tidak pecah/rusak saat dijatuhkan. Waktu penjatuhan per grup pun tiba dan dimulakanlah dari grup 1-3 dan setelah diperikas telur yang tidak rusak sama sekali adalah telur yang dijatuhkan oleh grup 1 yaitu grup Awang Semaun (grup saya), alhamdulillah kerjasama dan kerja keras tim. Setelah ice breaking tersebut selanjutnya para peserta berkumpul per-grup masing-masing untuk mengisi form evaluasi coach out bond dan pengambilan barang titipan serta pembelian cindera mata out bond bagi yang berminat serta closing ceremony pelaksanaan out bond. Selepas itu kami melanjutkan perjalanan kembali pulang menuju UBD.

              Kegiatan pun masuk pada hari ke-6 yaitu closing ceremony rangkaian kegiatan khusus peserta program BSN. Closing ceremony diawali oleh doa dan selanjutnya sambutan oleh Dr. Noor Hasharina Binti Pg Hj Hassan (Kepala Sekretariat BSN), dilanjutkan dengan sharing season dari setiap peserta. Pada sesi ini saya mendapatkan kesempatan pertama dan di kesempatan ini saya juga kembali melakukan pengenalan singkat mengenai diri, almamater, Beastudi Etos dan Dompet Dhuafa. Kemudain kegiatan dilanjutkan dengan sesi pembagian sertifikat dan sesi foto bersama serta break
sejenak.

Setelah break, kamipun melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi Masjid Asr Hasanal Bolkiah dan Masjid SOAS (Sultan Omar Ali Saifuddien) yang merupakan icon Negara Brunei Darussalam dengan kubah emas aslinya. Dan bahkan ada beberapa ptongan-potongan emas yang berbentuk persegi yang menghiasi di sekitaran tempat wudhu masjid SOAS. Tak lupa di sana kami banyak mendokumentasikan diri di setiap sudut pemandangannya karena saking indanya masjid tersebut. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan untuk mencari souvenir khas Brunei Darussalam dan setelahnya kami langsung beranjak kembali ke UBD untuk rehat dan packing persiapan kepulangan esok hari.

Kemudian, tiba malamnya kami para peserta BSN Indonesia dan Malaysia diajak oleh inisiatif peserta Brunei Darussalam dalam mengakrabkan diri dibalut dengan kegiatan makan bersama di CAPERS (sebuah restoran makanan Italia di Brunei Darussalam), di sana peraturannya bayar sekali per orang sebesar BND $ 15 (15 dollar Brunei) sekitar Rp 150.000,- dan boleh pesan makanan berkali-kali serta free minuman (lemon tea) dengan syarat tidak boleh kenyang dulu sebelum pesan dan sesudah menghabiskan makanan yang dipesan lebih awal sebelumnya hehhe. Alhamdulillah terima kasih banyak teman-teman dari Brunei Darussalam atas ajakan seru tersebut.

              Esok harinya, hari terakhir kegiatan sebelum kami check out. Kami sempatkan menghadiri peringatan hari lahir Sultan Hassanal Bolkiah yang ke 72 tahun di Lapangan Sir Omar Ali Saifuddien yang beseberangan dengan masjid indah SOAS. Peringatan hari lahir sultan ini merupakan bentuk kesyukuran rakyat Brunei Darussalam telah dianugerahi pemimpin  yang baik dan bijaksana seperti sang Sultan Hassanal Bolkiah tersebut. Peringatan dimulai dengan menunggu Kedatangan Sultan dan Keluarga Kerajaan Sultan, setiap kali ada rombongan mobil dan para polisi (pasukan pengawal) datang, mereka disambut dengan suara pukulan rebana oleh para pelajar Brunei Darussalam. Sultan tiba, perayaan pun dimulai dengan acara sermonial penghormatan pada bendera Negara dan Kesultanan, doa dan peluncuran tembakan meriam bebrapa kali ke udara serta dilanjutkan dengan proses pengelilingan pasukan tentara oleh Sultan serta atraksi baris-berbaris oleh para tentara di lapangan. Setelah itu sultan dan keluargapun kembali ke Singgasana Istana untuk melanjutkan peringatan di sana.

          Selepas acara peringatan tersebut selesai, selanjutnya kami kembali dengan segera ke UBD, makan siang dan melanjutkan perjalanan ke Brunei Inernational Airpot untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, Nuantara Indonesia Raya. Sungguh Luar Biasa pelajaran yang didapat dari Brunei Darussalam utamanya mengenai pemahaman diri (kelemahan dan kelebihan diri), kepemimpinan, kedisipilinan dalam kegiatan dan proteksi tinggi terhadap keamanan diri, kepedulaian sesama, kerja sama, kepercayaan, cara bersikap dan lain sebagianya yang bisa menjadikan diri merasa masih sangat kurang akan ilmu dan haus terhadap berbagai ilmu pengetahuan serta bisa menjadikan diri lebih produktif lagi dalam segala hal. Learning from Experiences, itulah pelajaran dari Ke-SPC-an kedua saya di Brunei Darussalam. Terima kasih. Salam Prestasi. See You on Next Top!!! Wassalamualaikum wr.wb.

Kamis, 30 November 2017

Awas Jangan Dibaca: Buat MABA!!!!


Dear Maba....
Organisasi, Penting atau Buang-Buang Waktu sih?
Pada saat kita menjadi seorang mahasiswa, perlu disadari bahwa bukan hanya status sebagai pelajar lagi yang kita sandang, tetapi juga sebagai pengemban amanah negara, penyambung lidah rakyat dan pejuang aspirasi bangsa. Berat bukan? Maka dari itu, masa peralihan dari seorang siswa/i SMA/MA/SMK menjadi Mahasiswa akan sangat terasa berbeda baik dari pelajaran, lingkup sosial maupun kegiatannya.

Tak jarang, di kampus kita akan menemukan berbagai macam jenis mahasiswa dengan kelakuan dan "kepentingan" yang berbeda. Ada yang sangat mementingkan akademik dan adapula yang mau berkomitmen untuk membagi konsentrasi untuk akademik dan organisasi, Nah, tipe mahasiswa seperti ini lah yang sering dipanggil sebagai seorang "aktivis".

Menjadi aktivis di kampus bukanlah sesuatu hal yang mudah, banyak konsekuensi yang harus ditanggung. Dari segi waktu, tenaga bahkan materi. Belum lagi, tantangan yang harus dihadapi adalah anggapan orang sekitar yang tidak selalu suka dan mendukung kegiatan organisasi yang sibuk dan cenderung "menganggu" kegiatan akademik.

Tetapi, seberapa penting sih organisasi untuk mahasiswa? Penting, lho! Organisasi bisa menjadi wadah kamu untuk menjadi pengemban amanah negara dan penyambung lidah rakyat, seperti organisasi lembaga formal kampus, Badan Eksekutif Mahasiswa, Majelis Permusyawaratan Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswa Prodi/Jurusan, disana bukan hanya mahasiswa yang menjadi sasaran tetapi juga rakyat yang menjadi tujuan dari segala kegiatannya. Tidak hanya isu kampus yang menjadi bahasan, tetapi juga isu-isu kenegaraan, Selain itu, untuk kamu yang ingin berorganisasi sekaligus meluangkan kreatifitas minat bakat bisa bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa yang berisi kegiatan-kegiatan olahraga, sosial dan juga seni budaya, Lalu untuk mahasiswa yang ingin berorganisasi agar dapat menunjang akademik bisa mengikuti Kelompok Studi Mahasiswa/Club Peminatan. dimana para mahasiswa yang mempunyai bidang yang sama bergabung untuk belajar dan mengembangkan keahliannya bersama.

Selain itu, Organisasi juga sangat penting untuk kehidupan sosial di kampus, selain menambah wawasan organisasi juga dapat melatih jiwa kepemimpinan serta integritas kita & memperluas lingkup pertemanan. So, are you ready either be a good student or good leader? Ambil Keputusanmu sekarang!

lihat juga "Pengalamanku menjadi Delegasi Indonesia di agenda Youtex Malaysia-Singapura 2016" inipun salah satunya karena Organisasi yang diikuti, klik: https://roniarena.blogspot.com/2017/02/perjalanan-sang-etam-etoser-samarinda.html


(Haeroni dalam Maharani)
Sumber: iCampus Indonesia

Minggu, 26 Maret 2017

RESUME BUKU PANDUAN PROGRAM DESA PRODUKTIF BEASTUDI ETOS



       I.            PENGANTAR
a.      Prolog
       Pembangunan bangsa Indonesia tidak hanya tertumpu pada pemerintah, melainkan tugas seluruh elemen bangsa ini. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa menjadikan Indonesia sebagai negara besar bukanlah perkara mudah, namun membangun Indonesia maju dengan masyarakatnya yang sejahtera bukan hal mustahil. Sebagai langkah awal dalam membangun bagsa, peran generasi muda dilakukan melalui aktivitas kontributif. Desa Produktif (Despro) menjadi salah satu sarana pengembangan kapasitas generasi muda dalam memahami masalah bangsa yang langsung bersinggungan dengan masyarakat akar rumput.
b.      Sekilas Tentang Desa Produktif
                                 i.      Sekolah Desa Produktif (SDP) sebagai Akar Despro
       SDP adalah program revitalisasi desa dengan mengembangkan potensi yang dimiliki masyarakat, baik potensi bidang pendidikan, kesehatan, sosial maupun ekonomi. Sekolah Desa Produktif mengedepankan prinsip partisipatif dan mandiri, sehingga masyarakat sasaran bukan hanya sebagai obyek, tetapi juga bagian dari subyek pemberdayaan. Sasaran program Sekolah Desa Produktif adalah masyarakat desa/komunitas marjinal. Pelaksana program Sekolah Desa Produktif digerakkan oleh mahasiswa penerima Beastudi Etos, dimana kegiatan ini menjadi bagian pembinaan mereka pada bidang sosial pemberdayaan.
                               ii.      Transformasi Menuju Desa Produktif
       SDP merupakan perkembangan awal Desa Produktif (Despro) yang saat ini mulai memiliki alur konsistensi tujuan dan output program yang lebih terukur. Program kontribusi mahasiswa penerima Beastudi Etos ini diawali di tahun 2009 dengan nama Kampung Produktif yang besrsifat proyek/insidental dengan skema pengajuan program yang bersifat kompetisi. engan demikian, program ini dibatasi waktu dan belum memiliki aspek sustainability yang kuat. Dinamika substansi program kampung produktif mengalami perubahan yaitu menempatkan pola pembinaan pada aktivitas ini sebagai program pembinaan bidang sosial bagi penerima Beastudi Etos mulai tahun 2011. Semangat SDP diawali program melalui sekolah guna mengembangkan kualitas dan potensi masyarakat secara umum dalam jangka panjang. Namun seiring berjalannya waktu SDP mengalami perubahan nama menjadi Desa Produktif (Despro) karena tidak semua daerah memiliki program secara langsung melalui sekolah, dengan kata lain langsung berhubungan dengan masyarakat.
        Perubahan yang terjadi di atas dikarenakan pertimbangan tujuan program, yaitu penguatan pada output program bagi masyarakat dan membangun profil kontributif bagi penerima manfaat Beastudi Indonesia yang diputuskan pada tahun 2014. Pergeseran makna Desa Produktif (Despro) digunakan untuk menamai lokasi masyarakat sasaran. Terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam mengoptimalkan hasil atau capaian program Despro, yaitu peningkatan kapasitas internal tim Despro daerah dan penguatan jaringan. Tujuan utama Despro adalah 2 hal, pertama, memberikan kompetensi kepada penerima manfaat BI dalam memahami persoalan akar rumput dan mengorganisasikan masyarakat. Kedua, aktivitas Despro mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara signifikan.
c.       Rencana Intervensi SDP
Rencana intervensi SDP ditujukan pada empat bidang utama, yaitu:
                                 i.      Bidang Pendidikan
                               ii.      Bidang Ekonomi
                             iii.      Bidang Kesehatan
                             iv.      Bidang Sosial
d.      Struktur dan Pengelolaan
                                 i.     
Manajer Komunitas
Struktur Desa Produktif
Supervisor Pembinaan Bidang Sosial

Koord. Despro

Pendamping Bidang Sosial Etos

Fasilitator Despro

Koordinator Daerah SDP

Adminkeu

PIC Program

PIC Program Pendidikan

PIC Program Kesehatan

PIC Program Ekonomi

PIC Program Sosial


                               ii.      Job Desc. Tim SDP Daerah
·         Mengawal proses pelaksanaan program Desa Produktif.
·         Merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi Despro di daerah masing-masing.
·         Melaporkan perkembangan pelaksanaan Despro secara periodik sesuai sistematika yang ada.
·         Melakukan proses kerjasama dengan pihak lain untuk optimalisasi capaian Despro
·         Membangun, memonitoring dan mengevaluasi komunikasi yang baik dengan tim Despro pusat, tim Despro daerah dan masyarakat sasaran.
·         Membangun, menciptakan dan mengawal komunikasi maupun mempublikasikan program Despro kepada pihak eksternal.
·         Optimalisasi potensi kemandirian finansial daerah.
·         Membangun komunikasi dan sinergi dengan program-program Beastudi Indonesia dan Dompet Dhuafa
                             iii.      Hak Tim SDP Daerah
·         Support pembiayaan atas program
·         Pendampingan oleh Tim Despro pusat
·         Konsultasi dan koordinasi terkait konsep program Despro daerah


    II.            MIMPI DESA PRODUKTIF
a.      Visi dan Misi
·         Visi : Membangun Generasi Kontributif dalam Mewujudkan Masyarakat Mandiri yang Unggul dan Berdaya.
·         Misi : Menciptakan Generasi Peduli untuk Masyarakat Mandiri yang Unggul dan Berdaya.
·         Tujuan Utama : Mengembangkan wilayah dengan mengedepankan potensi lokal yang dimotori oleh partisipasi masyarakat yang difasilitasi oleh mahasiswa, dimana mampu memberikan manfaat secara signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
b.      Kurikulum Despro (Pembinaan Profil Kontributif)
Tahun
Aspek
Point




Tahun I
Tahu Apa
1.Memahami pemberdayaan masyarakat secara teoritis
2.Mengetahui pola pendekatan pemberdayaan masyarakat  
Bisa Apa
1.      Mampu Membuat Analisis Dasar Kondisi Masyarakat  
2.      Mampu Menyusun Program Pendampingan Masyarakat
Perilaku Seperti Apa
1.      Peka
2.      Empati
3.      Probono/Berbagi 
4.      Suka  Menolong
Metode
1.      Training
2.      Penugasan membaca Buku
3.      Pendampingan Program Sosial
4.      Coaching
5.      Kunjungan Kelembagaan
Materi (Bersifat Hierarki)
1.      Teori dan Strategi Pemberdayaan Masyarakat (Pola PRA)
2.      Social mapping, penyusunan grand design dan aktivitas program (Pola SLA)
3.      Community Organizer
4.      Penguatan dan pengembangan Jaringan
5.      Kajian pengukur keberhasilan program (LFA)
6.      PAIKEM
Indikator Keberhasilan
Aktif dalam kegiatan sosial (aktif dalam proses pendampingan minimal 10 kali)
Cara Mengukur (Evaluasi)
1.      Rilis Kegiatan sosial yang diikuti
2.      Daftar kontrol dari pendamping etos bidang sosial pemberdayaan




Tahun II
Tahu Apa
1.      Memahami Demografi Sosial Masyarakat
2.      Membangun Jaringan
3.      Mampu Mengimplementasikan Program Pemberdayaan Masyarakat
Bisa Apa
1.      Mampu Aktif dan Mengorganisasikan Masyarakat
2.      Memiliki jaringan
Perilaku Seperti Apa
1.      Peka
2.      Empati
3.      Probono/Berbagi
4.      Suka Menolong
Metode
1.      Training
2.      Penugasan membaca Buku
3.      Pendampingan Program Sosial
4.      Coaching
5.      Kunjungan Kelembagaan
Materi (Bersifat Hierarki)
Manajemen pemagku kepentingan (manajemen jaringan)2. Identifikasi potensi dan resiko dalam program3. Kebijakan pembangunan masyarakat4. Materi kontekstual kebutuhan daerah (3 x pertemuan).
Indikator Keberhasilan
Melakukan kegiatan sosial terstruktur 2. Mempunyai database jaringan 3. Aktif dalam kegiatan sosial (aktif dalam proses pendampingan minimal 15 kali).
Cara Mengukur (Evaluasi)
1.      Rilis kegiatan sosial yang diikuti
2.      Daftar jaringan tokoh/ institusi (nama, TTL, alamat, institusi, jabatan/posisi, no telepon, email, pin BB)


Tahun  III



Tahun  III
Bisa Apa
1.      Memahami Antropologi
2.      Memahami pola dan perencanaan rekayasa sosial
3.      Memahami aktivitas social entrepreneur
Perilaku Seperti Apa
1.      Mampu mengelola program sosial pemberdayaan
2.      Mampu mengoptimalkan jaringan program sosial pemberdayaan
3.      Memahami pola menyusun perencanaan social entrepreneur
Perilaku Seperti Apa
1.      Peka
2.      Empati
3.      Probono/Berbagi
4.      Suka Menolong
5.      Jiwa Kedermawanan Sosial (Aspek Ekonomi)
Metode
1.      Training
2.      Penugasan membaca Buku
3.      Pendampingan Program Sosial
4.      Coaching
5.      Kunjungan Kelembagaan
Materi (Bersifat Hierarki)
1.      Pembangunan budaya sosial masyarakat
2.      Pendidikan dan pengembangan manusia
3.      Tata kelola dan penguatan Civil Society (example: NGO, Social Entrepreneur, Lembaga Sosial Lokal/Institusi Sosial Mandiri/Koperasi)
4.      Materi kontekstual kebutuhan daerah (3 x pertemuan)
Indikator Keberhasilan
1.      Memiliki keterlibatan dalam pengelolaan daerah binaan
2.      Bekerja sama dengan jaringan yang dimiliki sesuai dengan jalur kompetensi
3.      Aktif dalam kegiatan sosial (aktif dalam proses pendampingan minimal 7 kali)
Cara Mengukur (Evaluasi)
1.      Rilis kegiatan sosial yang diikuti
2.      Daftar jaringan tokoh/ institusi (nama, TTL, alamat, institusi, jabatan/posisi, no telepon, email, pin BB)
3.      Data penyusunan kaji dampak keberlangsungan program sosial

c.       Rencana Strategis
No.
Kategori Daerah
Definisi
Capaian Masyarakat/Komunitas Sasaran
1.
Wilayah proses inisiasi
Program masih pada tahap awal secara substantif, dimana program berfungsi sebagai upaya pendekatan kepada masyarakat.
Program dimaksudkan memberikan ruang pengalaman kepada masyarakat terhadap pengetahuan dan pengalaman yang baru.
1.      Mulai adanya komunikasi intensif dengan masyarakat/komunitas sasaran
2.       Mulai adanya kegiatan sosial bersama masyarakat/komunitas sasaran
3.       Masyarakat/komunitas sasaran mulai terlibat dalam implementasi program
4.       Kegiatan berlangsung secara simultan
5.      Mulai memiliki CO lokal
6.      Batasan waktu berproses selama 2 tahun
2.
Wilayah proses
pendampingan dan penguatan
Wilayah dengan keberjalanan
program dengan kategori baik dan mampu memberikan kebermanfaatan secara nyata
kepada masyarakat, walaupun tidak seluruhnya secara langsung. Tahap ini adalah langkah awal dalam mengembangkan potensi lokal dengan melibatkan partisipasi masyarakat
1. Komunikasi dan kegiatan bersama
masyarakat/komunitas sasaran berjalan secara rutin
2. Masyarakat/komunitas sasaran terlibat
aktif dalam proses program
3. Memiliki fokus program berbasis
masyarakat/komunitas sasaran
4. Memiliki output program (fisik maupun
imaterial/jasa)
5. Fokus program dan perencanaan
program bersifat berkelanjutan
6. Memiliki CO lokal yang menginisiasi
beberapa program (share authorized)
7. Memiliki jaringan kerjasama dalam
pengembangan program (min. 1 jaringan eksternal)
3.
Wilayah proses
pengembangan dan kemandirian
Wilayah dengan keberjalanan
program dengan kategori stabil dengan dimotori oleh partisipasi masyarakat. Hasil program mulai dirasakan secara langsung oleh masyarakat secara signifikan. Titik tekan pada fase ini adalah masyarakat mampu mandiri dalam mengelola potensi lokal mereka.
1. Partisipasi masyarakat/komunitas
sasaran menjadi titik poin utama dalam pelaksanaan program (komunikasi, perencanaan, implementasi, monev)
2. Memiliki produk program (output) yang
mulai dikelola secara swadaya (sendiri)
3. Produk program memiliki dampak
signifikan dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat/komunitas sasaran
4. Program bersifat berkelanjutan dan
progresif
5. CO lokal menjadi motor utama
penggerak aktivitas masyarakat/komunitas sasaran
6. Memiliki jaringan kerjasama dalam
pengembangan program (lebih dari 2 jaringan eksternal) yang bersifat berkelanjutan
7. Batasan waktu berproses selama 5 tahun

d.      Logo Despro
                                                i.     Gambar dan Nama Logo
Api Cawan Kehidupan Gambar cawan yang menjaga api semangat kepedulian generasi muda dalam menjaga kehidupan dan nilai-nilainya. Kehidupan masa depan generasi peduli untuk masyarakat, bangsa dan negara.


                                              ii.     Makna Logo Desa Produktif
·         Daun hijau tua adalah simbol kehidupan yang memiliki banyak manfaat, selalu berkembang dan penuh dengan dinamika.
·         Api dan sumber api melengkung ke bawah berwarna merah  merupakan simbol cahaya dan semangat yang terus menyala serta keoptimisan menggerakkan kehidupan.
·         Dua lingkaran berwarna orange bermakna sebagai simbol ikatan seluruh elemen masyarakat   secar luas.  
e.       Grand Design Program
Grand design Despro berawal dari Awarness Building dan tertuju pada Peningkatan Kualitas Hidup.


 III.            SEKOLAH PEMBERDAYAAN
a.       Sekolah Pemberdayaan (media pengembangan kapasitas generasi muda dalam memahami masalah bangsa yang langsung bersinggungan dengan masyarakat akar rumput.)
b.      Rencana Program Pembinaan Profil Kontributif (direncanakan mulai dari tahun 1-3 dengan berbagai teori & prakteknya)
c.       Bentuk Program Berbasis Indikator MDGs (Terdiri dari bidag ekonomi, sosial, pendidikan & Kesehatan)
d.      Langkah Strategis Peningkatan Partisipasi Despro (meliputi kegiatan Pelibatan, Pendekatan, Intervensi & Penguatan Jaringan)

 IV.            Identifikasi Wilayah (Area Assessment)
Identifikasi wilayah ini meliputi 5 aspek yaitu:
a.       Analisis Masalah
b.      Analisis Prioritas Penetuan Lokasi SDP
c.       Analisis Peran
d.      Alur Assessment
e.       Penilaian Hasil Assessment
    V.            KAJIAN TEORITIS
a.       Sustainable Livelihood Approach (SLA) sebagai Identifikasi Potensi (yaitu suatu pendekatan penguhidupan yang berkelanjutan)
b.      Memahami Sustainable Livelihoods Approach (SLA) (pendekatan penguhidupan yang berkelanjutan)
c.       Konteks dan Variabel (ditekankan pada permasalahan lingkungan yang ada di tempat binaan)


 VI.            Monitoring dan Evaluasi (Monev)
Monev memiliki 4 aspek yaitu:
a.       Tujuan (mengetahui perkembagan dsb terkait desa binaan)
b.      Target (program, tim, mitra dan dokumentasi)
c.       Sasaran (Penerima manfaat, pengurus, manajemen, mkitra & masyarakat)
d.      Bentuk Kegiatan (Monev, kunjungan, penguatan jaringan)

VII.            PENGUATAN JARINGAN DAN KOMUNIKASI EKSTERNAL
Hal ini terkait dengan beberapa point penting di bawah ini:
a.       Penguatan Jaringan
b.      Komunikasi Eksternal                                                                                     
                                                  i.   Press Release Media                                                                                  
                                                ii.   Plang Identitas Program                                                                            
                                              iii.   Penyusunan Laporan Publik

VIII.            FASILITATOR TIM DESA PRODUKTIF
a.       Ruang Lingkup Tugas Fasilitator (Secara umum yaitu memahami lembaga DD & Beastudi Indonesai & sebagai Fasilitator)
b.      Persyaratan Fasilitator Desa Produktif (Punya visi, pengalaman, aktiv organisasi, laki/wanita, usia 20-25 th & bersedia/sukarela)

 IX.            DESA PRODUKTIF AWARD
a.       Tujuan (Apresiasi & Penghargaan, Penjagaan dll)
b.      Sasaran (Seluruh wilayah despro)
c.       Jadwal Pelaksanaan (1x dalam 1 periode)
d.      Materi Penilaian (meliputi berbagai aspek proses; program dll)
e.       Metode Penilaian (Monev & Penyusunan evaluasi daerah)
f.       Bentuk Apresiasi (Hibah prestasi dan Publikasi program)
g.      Indikator Penilaian Despro Award (program, capaian program, partisipasi internal & eksternal)

    X.            PENUTUP
Despro merupakan langkah kecil yang digagas sebgai upaya perbaikan bagsa Indonesia menjadi lebih baik lagi.
                        Wassalamualaikaum w.w.,


                                                                                                            Samarinda, 26 Maret 2017



RONI HAERONI                 ETOSER SMD 2014



Seru buat dibaca nih!

PENGALAMANKU (Roni Haeroni) PERTUKARAN PELAJAR KE BRUNEI DARUSSALAM 2018

 PERTUKARAN PELAJAR KE BRUNEI DARUSSALAM 2018 Borneo Studies Network (BSN): Youth Leadership Global Discovery Programme 2018 Brunei Darus...

Baca juga postingan Popular ini